Nih Biografi Al-Karaji -Ilmuwan Matematika Muslim Pencipta Mesin Air

Ilmuwan Matematika Muslim Pencipta mesin air Nih Biografi Al-Karaji -Ilmuwan Matematika Muslim Pencipta mesin air
Diagram dari naskah orisinil Al-Karaji 's Inbat al-Dakwah Islamiyah al-khafiya, dari Transformasi Pengetahuan: Naskah awal dari Schoenberg Collection (diedit oleh Crofton Black, penerbitan Paul Holberton, 2007, hal 115.). ( Sumber : Bagian 7 "Teknologi").
Abu Bakr Muhammad Al-Karaji yakni seorang matematikawan Muslim dan insinyur dari simpulan masa ke-11 awal masa ke-10. Berasal dari Persia, ia menghabiskan pecahan penting dari kehidupan ilmiah di Baghdad untuk menulis buku matematika. Al-Karaji juga penulis Inbat al-Dakwah Islamiyah al-khafiya (The Ekstraksi Hidden Waters), sebuah risalah teknis yang mengungkapkan suatu pengetahuan yang mendalam wacana hidrologi yang dipercaya sebagai teks tertua dari jenisnya di bidang ini. Buku ini memperlihatkan studi yang beredar di aneka macam jenis air, metode untuk menemukan tingkat air, deskripsi instrumen untuk survei, pembangunan saluran, lapisan air, proteksi terhadap kerusakan, dan pencucian dan pemeliharaan air.

Al-Karaji dianggap sebagai mahir matematika terkemuka dan orang pertama yang membebaskan aljabar dari operasi geometris produk aritmatika Yunani. Dia menggantinya dengan jenis operasi yang merupakan inti dari aljabar pada dikala ini. Woepcke juga memuji Al-Karaji sebagai mahir matematika pertama di dunia yang memperkenalkan teori aljabar kalkulus.

Tak hanya piawai di ranah matematika, Al-Karaji juga seorang insinyur yang mumpuni, terutama dalam hal administrasi air sekaligus membuat mesin air.

Biografi

Al-Karaji (dieja Al-Karadji), Abu Bakr Muhammad b. al-Hasan (atau al-Husain di beberapa sumber) yakni spesialis matematika masa ke-10 dan insinyur (abad ke-4 H). Ia dikenal sebagai Al-Hasib (the calculator, yang berarti mahir matematika). Menurut Levi Della Vida Girogio, ia yakni penduduk orisinil Karadj (di Iran) dan bukan dari distrik Al-Karkh dari Baghad, ibarat yang diklaim dalam beberapa tulisan-tulisan modern.

Saat masih muda, ia pergi ke Baghdad, di sana ia memegang posisi tinggi dalam pemerintahan dan menyusun, Pada 402 H/1011-12 CE, karya yang dikenal dalam matematika Al-Fakhri, Al-Kafi dan Al-Badi ', di mana ia berusaha untuk membebaskan aljabar dari geometri. kemudian ia kembali ke tanah kelahirannya, dan wafat pada 406 H/1015 M.

Dari masa ke-9 hingga masa ke-16, masyarakat Islam mengalami "zaman keemasan" ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu bidang yang paling penting adalah, mereka menerapkan pengetahuan dan pengalaman simpel yakni luasnya wilayah hidrologi, dalam arti aneka macam sarana air bersih, pengendalian gerakan air, dan perangkat yang berbeda ditemukan dan diterapkan di dalamnya. Munculnya kota-kota ibarat Baghdad, Kairo, Cordoba, Damaskus, Fez dan Marrakech maka dibutuhkan metode yang pengelolaan air yang canggih untuk memasok pertumbuhan populasi yang cepat. Mengintegrasikan, mengadaptasi dan teknik  penyulingan irigasi dan warisan metode distribusi air dari keahlian lokal atau dipinjam dari peradaban kuno, para insinyur air Islam memulai semenjak masa ke-8 untuk membangun sebuah revolusi pertanian pada sebagian besar penguasaan hidrologi.

Adalah Muhammad al-Karaji, seorang saintis terkemuka dari Karaj, Persia. Lewat Kitab Inbat al-miyah al-Khafiya, al-Karaji mengkaji dan menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu ekstraksi air bawah tanah. Berkat kehebatannya, ia bahkan mendapat julukan sebagai pencetus mesin air.

Studi hidrologi dibahas al-Kajari dalam Kitab Inbat al-Miyah al-Khafiya yang ditulisnya sekitar tahun 1000 M. Buku itu membahas cara untuk memperoleh atu mendapat  air yang terdapat di bawah tanah. Air tersembunyi itu sanggup dimanfaatkan untuk menggerakan roda ekonomi dan kehidupan sosial.

Menurut para sejarawan, al-Karaji, menulis karya matematikanya di Baghdad, namun ia menyusun bukunya secara rahasia  di perairan di wilayah Jaba, Persia. Di wilayah itu terdapat pengembangan beberapa proyek hidrolik, termasuk qanat.

Inbat al-Miyah al-Khafiya

Inbat al-Miyah al-Khafiya merupakan  satu-satunya buku teknik mesin karya Al-Karaji. Buku tersebut dicetak ulang pada era modern  di Haydarabad  tahun 1940. Edisi lain dikeluarkan pada tahun 1997 oleh Institute of Arabic Manuscripts di Kairo. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh H  Khadiv-Djam pada 1966.

Buku itu juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Prancis oleh Aly Mazaheri pada 1973. Dan muncul baru-baru ini dalam terjemahan bahasa Italia tahun 2007. Tidak ada terjemahan lengkap dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman.  Kitab ini disimpan di perpustakaan Universitas Pennsylvania, Sam Fogg, London, pada Desember 2000.

Dalam pengantar buku itu, al-Karaji mengungkapkan, dirinya terinspirasi membuat buku itu ketika datang di Baghdad. Di metropolis intelektual dunia itu,  ia melihat  semua orang, dari mulai belum dewasa hingga orang bau tanah sangat menyayangi ilmu pengetahuan. Hal tersebut mendorongnya untuk mengarang buku matematika, khususnya mengkaji aritmatika dan geometri.

Sekembali dari Baghdad, ia kemudian mulai melaksanakan penelitian ilmiah. Berbekal santunan dari penguasa Muslim berjulukan Abu Ghanim Ma'ruf bin Muhammad, al-Kajari kemudian  meneliti dan mencurahkan pikirannya bagi pengembangan hidrologi. Ia kemudian memutuskan untuk menulsi buku wacana air yang  tersembunyi di perairan.

Inbat al-Miyah al-Khafiya merupakan  karya manual wacana hidrolik air yang sangat baik. Selain membahas hidrologi, buku ini juga berisi beberapa catatan biografis otomatis, serta diskusi dari serangkaian konsep relatif terhadap geografi dunia. Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa mengambarkan dalam fenomena alam, dan memperlihatkan perhatian yang besar untuk survei teknik, terutama hidrologi.

Penulis menjelaskan jumlah instrumen survei, dasar geometris yang ia jelaskan dengan rincian faktual wacana konstruksi dan cara kerja  qanat. Al-Karaji juga menjelaskan terowongan bawah tanah (ia membuat sebuah kiasan untuk  Isfahan) untuk menyediakan air  di tempat gersang.

"Dia juga membahas dasar legalitas pembangunan sumur dan akses hidrolik. Di sini beliau merujuk kepada sekolah fiqh (hukum Islam) dan memperlihatkan bahwa beliau menyadari aturan dimensi hidrologi, sebagai techno-disiplin ilmu terkait erat dengan masyarakat dan ekonomi," terang Muhammad Abattouy.

Sebagai risalah ilmiah, buku ini merupakan bantuan orisinil dalam hidrologi, survei dan aspek lain dari geologi, dan membuktikan lanjutan kepada pengetahuan wacana tanah sekitar masa ke-10 M di  dunia Islam. Al-Karaji mengungkap secara mendalam dan wacana teori tanah yang terbilang sulit untuk dipahami.  Kontribusinya dalam bidang ini yakni yang tertua yang dikenal dalam bentuk teks pada subjek.

Pengetahuannya wacana air bawah tanah pada umumnya sesuai dengan pemahaman subjek modern. Walaupun ia tidak pernah menampilkan seluruh siklus ibarat yang kita tahu, ia mencatat dalam aneka macam petikan dari bukunya masing-masing tahap individu.

Isi buku kira-kira sanggup diringkas sebagai berikut. Risalah yang dibagi menjadi 25 pecahan  dapat dikelompokkan dalam tujuh pecahan atau bagian. Bagian pertama yakni sebuah pengenalan risalah, dimulai dengan  basmalah dan penegasan bahwa  buku itu didedikasikan kepada Menteri Abu Ghanim Ma'ruf bin Muhammad..

Ringkasan buku Inbat al-Miyah al-Khafiya

Bagian kedua (bab 2 hingga 11), penulis menjelaskan aneka macam pertimbangan alam pada filosofi alami geologi, aspek bumi, air tanah, sumber air, pegunungan, aneka macam jenis air, metode untuk membedakan antara air, dan pertimbangan wacana tanah. Bagian ini merupakan dasar risalah dalam istilah ilmu pengetahuan alasannya kontekstual hidrologi yang lebih besar dalam bidang geologi dan ilmu alam.

Bagian ketiga (bab 12 hingga 14), terdiri dari risalah aturan konten berdasarkan argumen dari aneka macam faham atau ajaran Islam wacana aturan mengenai qanat, penggaliannya, karakteristik dan penggunaan. Bagian ini yakni latar belakang sosial dari karya.

Bagian keempat (bab 15 hingga 17), berpusat pada tema teknik dalam hidrologi, terutama yang relevan dengan transportasi air, penggalian qanat, air aqueducts dan keterangan yang dibutuhkan teknik untuk pemeliharaan mereka.Bagian kelima (bab 18- hingga 19) membahas wacana survei dan instrumen, keterangan selanjutnya dan demonstrasi teorem penggunaannya, pelaksanaan survei teknik di hidrologi.

Bagian keenam (bab 20 hingga 24), membahas wacana analisis survei metode dan instrumen lanjutan.  Al-Kajari menjelaskan survei instrumen tradisional dan prosedurnya. "Dalam pecahan 23, ia menjelaskan beberapa instrumen yang berhasil ditemukannya,'' terang Donald R Hill, dalam karyanya Islamic Science and Engineering. Bagian ketujuh (bab 25), merupakan pendalaman dari semua bab. Pada pecahan itu pula, al-Karaji memperlihatkan beberapa pesan yang tersirat simpel kepada sang menteri yang menyeponsori penulisan buku itu.

Buku al-Karaji merupakan naskah tertua wacana ilmu air bawah tanah. Isinya sangat menakjubkan. Ia telah bersahabat dengan konsep gres dan prinsip-prinsip yang menempel dengan siklus hidrologis, pembagian terstruktur mengenai dari tanah, citra aquifers, dan mencari air tanah.

"Banyak dari buku Al-Karaji berkaitan dengan teknik untuk mengeksplorasi tanah, terutama untuk menggali sumur dan qanat. Ia menjelaskan metode yang masih dipakai di banyak negara di Timur Tengah dan Asia," terang Mehdi Nadji dan Rudolf  Voight dalam karyanya Exploration for Hidden Water by M. Karaji: The Oldest Textbook on Hydrology Groundwater.

Mengenal Qanat Karya al-Karaji

Qanat yakni teknik irigasi yang khusus untuk memanfaatkan air bawah tanah dengan memakai pipa.  Pada era keemasan Islam, qanat merupakan salah satu metode yang paling efektif untuk menyediakan air. Teknik itu kemungkinan berasal dari utara Iran pada era kuno, namun tahap sistem pengadaan air ini melalui jarak jauh telah di gunakan secara luas di dunia Muslim di masa pertengahan dan hingga masa modern.

Berdasarkan perkiraan, sekitar 75 persen air yang dipakai di Iran berasal dari qanat yang panjangnya lebih dari 100 ribu mil. Di luar Iran, qanat masih dipakai pada beberapa pecahan negara Islam, terutama di tenggara  Semenanjung Arab dan Afrika Utara. Sistem Qanat yang telah dipakai opada era Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah.

Khalifah al-Mutawakkil (847-866 M) membangun sebuah sistem qanat untuk memasok air ke istana gres di Samarra. Dalam Inbat al-Miyah al-Khafiyya, berdasarkan Muhammad Abattoey, al-Karaji mengungkapkan secara rinci dan baik wacana pembangunan akses qanat, lapisannya, proteksi terhadap kerusakan, pencucian dan pemeliharaannya.

Satu pecahan dari buku itu dikhususkan untuk membahas teknik menjelajahi air tanah, terutama untuk menggali qanat di kawasan berpasir. Sebagai contoh, ia menjelaskan cara survei wacana kemiringan qanat dan bagaimana bekerja di bawah keadaan yang sulit. Pada keadaan tertentu, al-Karaji menyarakan semoga pembangunan qanat dihentikan, alasannya sanggup membahayakan keselamatan.

Kesimpulannya, tampak terang bahwa Al-Karaji telah bersahabat dengan dasar hidrologi, geologi, teknik dan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tanah air, yang dikenal dikala ini. Al-Karaji memamerkan keterampilan dan keahlian yang luas  dalam diskusi wacana  pembangunan qanat, pembagian terstruktur mengenai tanah,  mencari air tawar/jernih, dan pengetahuan dalam aneka macam jenis aquifers dan karakteristik hidrolis. Al-Karaji pun dikenal sebagai pencetus karya struktur geologi pada penggunaan tumbuhan tumbuh sebagai indikator dari tanah air waduk (aquifers).

Sumber:
Muslim heritage 
Dakwah Syariah